Bisnisnews.net || Sebuah angkutan kota (angkot) di Sukabumi menjadi perbincangan warganet setelah diketahui menggunakan gas elpiji 3 kilogram sebagai bahan bakar. Angkot trayek 01 jurusan Terminal Sukaraja–Kota Sukabumi itu dinilai menghadirkan cara berbeda dalam menekan biaya operasional di tengah tingginya harga bahan bakar minyak.
Pengemudi angkot tersebut, Hendra Irawan (53), mengungkapkan bahwa keputusan beralih ke elpiji tidak datang secara tiba-tiba. Ia terlebih dahulu melihat dan mempelajari pengalaman rekan sesama sopir yang sudah lebih dulu menggunakan sistem serupa.
“Awalnya saya hanya mengikuti teman. Saya cari tahu dulu kelebihan dan kekurangannya seperti apa, baru akhirnya memutuskan untuk mencoba,” tutur Hendra.
Langkah tersebut terbukti memberikan dampak signifikan terhadap pengeluaran hariannya. Ia menyebut bisa menghemat sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu setiap hari dibandingkan saat masih menggunakan bensin.
Dalam aktivitasnya, Hendra rata-rata menghabiskan dua tabung elpiji per hari. Satu tabung mampu digunakan untuk empat kali perjalanan. Jika dibandingkan dengan penggunaan bensin, perbedaannya cukup mencolok.
“Dulu empat rit bisa habis Rp50 ribu kalau pakai bensin. Sekarang satu tabung gas hanya Rp19 ribu,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebelum menggunakan elpiji, kebutuhan bensin hariannya mencapai sekitar 9 liter dengan biaya sekitar Rp90 ribu. Kini, biaya tersebut turun drastis menjadi sekitar Rp38 ribu per hari.
“Alhamdulillah sekarang ada sisa dari penghasilan, jadi lebih ringan,” katanya.
Selama kurang lebih tujuh bulan penggunaan, Hendra mengaku tidak mengalami gangguan berarti pada mesin kendaraannya. Ia bahkan menilai pembakaran bahan bakar menjadi lebih bersih, tanpa perlu melakukan perubahan signifikan pada mesin.
“Mesin masih standar, tidak ada penyesuaian khusus. Karburator juga aman, dan busi tidak cepat kotor,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui adanya penurunan tenaga kendaraan, terutama saat melintasi tanjakan. Namun kondisi tersebut tidak menjadi kendala besar karena sistem bahan bakar bisa dengan cepat dialihkan kembali ke bensin.
“Kalau di tanjakan memang terasa kurang, tapi bisa langsung pindah ke bensin dengan mudah,” tambahnya.
Untuk menekan pengeluaran lebih jauh, Hendra biasanya membeli elpiji langsung dari agen agar mendapatkan harga yang lebih terjangkau.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade sebagai sopir angkot, Hendra menilai penggunaan elpiji menjadi salah satu solusi praktis dalam menghadapi tingginya biaya operasional.
“Yang penting tetap bisa narik dan ada sisa. Sekarang jauh lebih hemat,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil