Bisnisnews.net || Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Gejolak geopolitik global yang kian memanas membawa aroma kecemasan akan potensi Perang Dunia III. Di tengah deru mesin perang dan ketidakpastian ekonomi, ancaman nyata yang mengintai setiap meja makan kita adalah krisis pangan. Sebelum segalanya terlambat, Yudi Suryadikrama, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih, menyerukan sebuah gerakan semesta: Ketahanan dan Kemandirian Pangan Berbasis Spiritual-Nasionalisme.
Akar Budaya dan Falsafah Kemandirian
Ajakan Yudi Suryadikrama melainkan sebuah manifestasi dari ajaran Trisakti Bung Karno, khususnya poin “Berdikari dalam Bidang Ekonomi”. Nasionalisme sejati hari ini tidak lagi diukur dari retorika, melainkan dari sejauh mana kita mampu berdaulat atas apa yang kita makan.
Secara filosofis, tanah adalah “Ibu Pertiwi” yang menghidupi. Membiarkan lahan telantar adalah bentuk pengingkaran terhadap anugerah Tuhan. Dalam kacamata spiritual, menanam adalah bentuk dzikir nyata—sebuah interaksi harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Jihad Pangan: Dari Halaman Rumah hingga Kantor
Seruan ini menekankan optimalisasi setiap jengkal tanah. Tak perlu menunggu lahan berhektar-hektar; halaman rumah, sudut kantor, hingga lahan kosong di perkotaan harus diubah menjadi lumbung hidup.
1. Pertanian Domestik: Menanam sayur dan tanaman pangan di pot atau polibag.
2. Akuakultur Mandiri: Memanfaatkan kolam-kolam kecil untuk budidaya ikan.
3. Peternakan Rakyat: Mengelola ternak skala kecil sebagai sumber protein.
Gerakan ini adalah strategi “Gerilya Pangan”. Jika setiap rumah tangga mandiri, maka ketahanan nasional akan terbentuk dengan sendirinya dari unit terkecil.
Perspektif Pakar dan Filosof
1. Sejalan dengan visi ini, para pakar sering mengingatkan bahwa pangan adalah senjata (food as a weapon).
2. Francis Bacon pernah berujar, “Nature, to be commanded, must be obeyed.” Kita harus tunduk pada hukum alam dengan merawatnya agar ia memberi makan kita.
3. Dalam konteks kekinian, Prof. Bungaran Saragih (Pakar Agribisnis) sering menekankan bahwa kemandirian pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa. Tanpa pangan yang cukup, martabat bangsa dipertaruhkan.
Dari sisi spiritualitas ekologis, para pemikir menekankan bahwa krisis pangan adalah krisis moral. Sebagaimana pesan dalam filsafat Pancasilais, keadilan sosial dimulai dari terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat secara mandiri.
Kesimpulan: Sebelum Terlambat
Seruan Yudi Suryadikrama adalah lonceng peringatan sekaligus peta jalan. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang “mati di lumbung padi” karena ketergantungan pada impor di tengah situasi perang global.
Mari jadikan menanam sebagai gaya hidup, dzikir sebagai energi, dan nasionalisme sebagai api semangat. Ketahanan pangan adalah pertahanan nasional. Mari bergerak sekarang, sebelum pintu perdagangan dunia tertutup rapat oleh konflik, dan kita hanya bisa menyesali lahan-lahan yang sempat kita biarkan mati.***
Editor : M. Nabil
(Aab)