Bisnisnews.net || Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi menyampaikan sikap tegas sekaligus keprihatinan atas dugaan pelecehan terhadap santriwati yang melibatkan pimpinan sebuah pondok pesantren di Kecamatan Cicantayan.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Wilayah Sukabumi, Yeni Dewi Endrayani, mengatakan peristiwa tersebut sangat disayangkan karena terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak.
“Ini sangat memprihatinkan. Lembaga pendidikan semestinya menjadi ruang perlindungan, bukan justru tempat anak merasa terancam,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, dugaan tindakan itu telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu dan diduga terjadi berulang. Korban disebut mengalami tekanan agar tidak menceritakan kejadian yang dialami. Situasi tersebut membuat sebagian korban memilih diam dalam waktu lama.
DP3A Kabupaten Sukabumi telah memberikan pendampingan terhadap tiga korban yang secara resmi melapor. Langkah yang dilakukan meliputi pemeriksaan visum di RSUD Sekarwangi serta layanan pendampingan psikologis yang dikoordinasikan bersama Dinas Sosial.
“Pendampingan medis dan psikologis sudah kami lakukan. Kami berupaya memastikan kondisi korban tertangani dengan baik,” jelas Yeni.
Selain pendampingan, DP3A juga terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memantau perkembangan proses hukum. Para korban turut didampingi penasihat hukum dalam setiap tahapan pemeriksaan.
Dari informasi yang dihimpun, terdapat enam korban yang teridentifikasi. Namun, hanya tiga orang yang telah membuat laporan resmi dan mendapatkan penanganan langsung dari DP3A.
“Kami menangani yang sudah melapor secara resmi. Untuk kemungkinan korban lain, kami belum bisa memastikan,” katanya.
Secara umum, kondisi fisik korban dinilai stabil. Namun secara psikologis, mereka diduga masih mengalami tekanan dan trauma. Bahkan, salah satu korban sempat menghentikan pendidikannya karena kesulitan memendam beban yang dialami.
Saat ini, korban tersebut mulai menunjukkan kondisi yang lebih membaik. Meski demikian, hasil asesmen psikologis secara menyeluruh masih menunggu laporan resmi dari psikolog yang melakukan pendampingan.
DP3A juga berupaya mendorong para korban agar kembali melanjutkan pendidikan formal. Beberapa di antaranya diketahui sempat mengikuti program kesetaraan setelah tidak lagi bersekolah.
“Kami ingin mereka tetap memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan,” tegas Yeni.
Di akhir keterangannya, DP3A mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak, termasuk yang sedang menempuh pendidikan di pesantren.
“Orang tua jangan sampai lepas pengawasan. Komunikasi harus terus dibangun agar anak berani terbuka jika mengalami sesuatu,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : M. Nabil