Bisnisnews.net || Hujan deras yang mengguyur wilayah Sukabumi menyebabkan Tembok Penahan Tanah (TPT) di jalur provinsi Sukabumi–Sagaranten, tepatnya di Desa Nyalindung, mengalami longsor. Dampak dari peristiwa tersebut, Tugu Jabar Istimewa yang berada di atas struktur TPT ikut ambles ke bawah.
Kepala Desa Nyalindung, Asep Supriadi, mengungkapkan longsor terjadi pada Sabtu malam, 10 Januari 2026, sekitar pukul 22.00 WIB, setelah hujan dengan intensitas tinggi turun sejak malam hari. Infrastruktur tersebut diketahui merupakan bangunan milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dibangun sebagai penanganan pascabencana longsor tahun 2024.
“Ini bangunan pascabencana 2024, dibangun pada tahun 2025 dan baru diresmikan. Namun karena hujan deras yang terus mengguyur, TPT kembali mengalami longsor dan Tugu Jabar Istimewa ikut turun,” kata Asep, Minggu (11/1/2026).
Ia menjelaskan, material longsoran memiliki lebar sekitar 20 meter dengan ketinggian mencapai 35 hingga 50 meter. Kondisi geografis wilayah yang memiliki kemiringan hampir tegak lurus serta karakter tanah yang labil menjadi faktor utama terjadinya longsor.
“Kontur tanah di sini memang rawan pergerakan. Dengan kemiringan hampir 90 derajat dan curah hujan tinggi, longsor sangat mudah terjadi,” ujarnya.
Meski mengalami kerusakan cukup parah, jalur provinsi Sukabumi–Sagaranten masih dapat dilalui kendaraan dengan pengaturan satu arah. Namun, pengendara diminta untuk lebih waspada saat melintasi lokasi longsor.
“Untuk sementara kendaraan masih bisa melintas satu arah. Kami minta para pengguna jalan lebih berhati-hati,” tutur Asep.
Ia juga menyebutkan bahwa sebelum kejadian, struktur TPT sudah menunjukkan tanda-tanda keretakan. Pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat pun telah memberikan imbauan kewaspadaan kepada pengguna jalan.
Sebagai langkah darurat, petugas dari Dinas PU Provinsi langsung melakukan penanganan di lapangan dengan mengalihkan aliran air hujan ke saluran drainase. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi tekanan air yang berpotensi memicu longsor susulan.
“Di bawah lokasi longsor terdapat Sungai Langkob. Kalau air tidak dialihkan, abrasi bisa semakin besar dan berpotensi menyebabkan longsor lanjutan,” jelasnya.
Hingga saat ini, potensi longsor susulan masih ada mengingat kondisi tanah yang belum sepenuhnya stabil. Pemerintah desa bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan, sembari menunggu penanganan permanen dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap kerusakan TPT dan dampaknya terhadap jalur provinsi tersebut.***(RAF)
Editor : M. Nabil