Bisnisnews.net || Warung Nasi Mamayu di jalur Cikidang sudah berdiri 22 tahun. Di balik dapurnya ada sosok Ipah, perempuan yang ramah menyambut tamu dari pemotor touring hingga pejabat.
Matahari baru meninggi di jalur alternatif Cibadak – Cikidang menuju Palabuhanratu. Di antara lalu lintas kendaraan yang bergegas, sebuah warung sederhana tampak tak pernah sepi.
Warung itu bernama Nasi Mamayu, berdiri di samping Sungai Citarik, tak jauh sebelum jembatan. Pemiliknya, Ipah, dengan ramah menyapa setiap pengunjung yang datang, seolah menyambut tamu di rumah sendiri.
“Warung Nasi Mamayu berdiri tahun 2003, jadi sekitar 22 tahun berdirinya,” ujar Ipah, Rabu 19/11/2025.
Nama “Mamayu” tidak lahir sembarangan. Ipah memilihnya dengan harapan sederhana namun penuh makna.
“Namanya Mamayu itu artinya lahap makan. Jadi siapa pun yang makan di sini diharapkan bisa lahap, bisa puas,” kata Ipah, tersenyum kecil.
Arti itu seperti menjelma di ruang makan yang sederhana. Meja-meja panjang dari kayu yang catnya mulai terkelupas penuh dengan rombongan yang singgah. Di etalase kaca, aneka lauk tersusun: rendang, ayam goreng, pesmol ikan, hingga bakwan jagung. Di sampingnya, sebuah toples besar berisi kerupuk siap menemani.
Ipah mengenal betul siapa yang datang ke warungnya. Meski Sungai Citarik dikenal sebagai destinasi arung jeram, pelanggan utamanya justru bukan para wisatawan itu.
“Yang makan bukan semua dari arung jeram, atau arus liar karena di lokasi itu ada catering tersendiri,” tutur Ipah.
Kebanyakan tamunya adalah para pelintas jalan. “Kebanyakan yang melintas, yang sedang konvoy, momotoran mampir. Weekend motor touring yang mau ke Ciletuh, ke Sawarna. Sabtu – Minggu penuh dengan motor,” imbuhnya.
Bukti jejak ribuan pelintas itu menempel nyata di etalase kaca. Stiker berbagai komunitas motor, dari Jakarta, Depok, Bogor, hingga luar Jawa, menghiasi hampir seluruh permukaannya. Seolah-olah, setiap stiker adalah tanda tangan bahwa mereka pernah singgah di Warung Nasi Mamayu.***
Editor : M. Nabil
(Aab)