Bisnisnews.net || Di tengah menipisnya persediaan darah di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi, masyarakat didorong untuk membangun kebiasaan donor darah secara rutin, bukan hanya saat keadaan darurat.
Menurut Kepala Seksi P2D2S (Petugas Pencari dan Pelestari Donor Darah Sukarela) PMI Kota Sukabumi, Taopik Hidayat, budaya donor darah yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan stok darah tetap stabil dan tersedia kapan pun dibutuhkan.
“Selama ini, kebanyakan orang baru berdonor ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan. Padahal kalau donor menjadi kebiasaan rutin, kebutuhan darah bisa terpenuhi secara mandiri,” ujar Taopik, Sabtu (19/7/2025).
Kebutuhan kantong darah di Kota Sukabumi terbilang tinggi, mencapai 1.500 hingga 2.000 kantong per bulan. Namun hingga pertengahan Juli ini, stok yang berhasil dikumpulkan baru sekitar 800 kantong. Kekosongan ini berisiko menghambat layanan transfusi bagi pasien gawat darurat di rumah sakit.
PMI tidak hanya mengimbau warga untuk berdonor, tetapi juga mengajak instansi, sekolah, dan komunitas untuk rutin mengadakan kegiatan donor darah sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.
“Budaya donor itu tidak bisa instan. Harus dibentuk lewat edukasi, teladan, dan konsistensi. Kita ingin menjadikan donor darah sebagai gaya hidup sehat dan bentuk solidaritas kemanusiaan,” kata Taopik.
Sebagai bentuk kolaborasi antardaerah, PMI Kota Sukabumi juga melakukan komunikasi aktif dengan PMI dari wilayah lain untuk saling mendukung kebutuhan darah, terutama ketika stok lokal menipis.
PMI berharap ke depan, donor darah bukan lagi dianggap sebagai tindakan darurat, melainkan sebagai kegiatan kemanusiaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari warga Kota Sukabumi.***(RAF)
Editor : M. Nabil