Bisnisnews.net || Kenaikan harga kebutuhan pokok terus menekan daya beli masyarakat Kota Sukabumi. Meski inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) per April 2025 tercatat sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya, kota ini kembali mencatat inflasi tertinggi se-Jawa Barat sebesar 2,74 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,52.
Kepala BPS Kota Sukabumi, Urip Sugeng Santoso, menjelaskan bahwa inflasi yang terjadi sepanjang Januari hingga April 2025 didorong oleh kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi sebesar 1,22 persen. Diikuti kelompok peralatan rumah tangga (1,05 persen), perawatan pribadi (0,54 persen), dan pakaian serta alas kaki (0,5 persen).
“Emas perhiasan, kopi bubuk, minyak goreng, hingga nasi dengan lauk adalah beberapa komoditas yang memberikan andil besar terhadap inflasi tahun ini,” ujar Urip dalam keterangannya, Minggu (11/5/2025).
Meskipun lebih rendah dibanding inflasi pada April 2024 yang mencapai 2,88 persen, tekanan harga tetap mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. “Harga kebutuhan pokok yang terus naik secara perlahan namun konsisten telah mengurangi kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Kepala Sub Bagian Umum BPS Kota Sukabumi, Wisnu Eka, menyebutkan inflasi terjadi karena kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), perilaku spekulatif pedagang, hingga terganggunya distribusi barang.
Menariknya, hanya kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi tipis sebesar -0,01 persen. Namun, ini tidak cukup untuk menahan laju inflasi secara keseluruhan yang tetap lebih tinggi dibanding kota lain seperti Bogor (1,86 persen) dan Depok (1,87 persen).
“Inflasi adalah ancaman senyap. Ketika tidak terkendali, ia perlahan mengikis kekuatan beli masyarakat dan melemahkan perekonomian lokal,” kata Wisnu.
Oleh karena itu, BPS mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret. Strategi pengendalian harga pangan, efisiensi distribusi, serta kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam meredam tekanan inflasi yang terus berulang setiap tahun.***(RAF)
Editor : M. Nabil