Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Bisnisnews.net || Bab 1: Cahaya yang Memanggil Ruh
Aku adalah cahaya yang lupa asalnya.
Terjebak dalam jasad, terselubung waktu.
Namun di dalam diam, ada bisikan lembut yang tak pernah padam.
Ia memanggilku pulang, kepada sumber segalanya.
Ketika aku menutup mata dan membuka jiwa,
kudengar panggilan itu—
bukan dari langit, bukan dari bumi,
tapi dari dalam diriku sendiri.
Ia bukan suara, bukan kata,
tapi getar yang menuntunku
melewati gelapnya diri, menuju terang-Nya.
Bab 2: Ruh yang Sujud dalam Wujud Ilahi
Ruhku bukan milikku
Ia ditiup dari sisi-Nya,
dan hanya tenang saat bersujud kepada-Nya.
Wujud ini hanyalah wadah.
Yang hakiki adalah sujud itu sendiri—
sujud ruh kepada Wujud Ilahi.
Ketika ruh sujud, jasad pun ikut tunduk.
Saat ruh tenggelam, wajah pun bersinar.
Aku ingin wajahku muda,
karena ruhku selalu sujud.
Sebab hanya sujud yang memudakan jiwa,
dan hanya cinta yang mengabadikan cahaya.
Bab 3: Fana dalam Cinta, Baqā’ dalam Nama-Nya
Ketika cinta telah menyala sempurna,
aku tak lagi punya aku.
Semua telah lebur dalam cinta kepada-Nya.
Inilah fana:
aku tenggelam dalam-Nya,
hingga hanya Dia yang tinggal.
Namun setelah lenyap,
Dia bangkitkanku kembali,
bukan sebagai diriku,
tapi sebagai pantulan Nama-Nya.
Inilah baqā’:
kasih-Nya mengalir lewat tanganku,
rahmat-Nya menuntun langkahku,
Nama-Nya hidup dalam diriku.
Bab 4: Cermin Wujud – Ketika Diri Menjadi Bayang Cahaya-Nya
Dulu aku mengira aku adalah sesuatu,
tapi ternyata aku hanya bayang.
Aku bukan cahaya itu sendiri,
tapi cermin yang memantulkan-Nya.
Saat cermin itu kotor oleh nafsu,
pantulan menjadi kabur.
Saat ia bening karena dzikir,
Wajah-Nya tampak lebih nyata dari diriku sendiri.
Aku ingin menjadi cermin jernih,
yang jika orang memandangku,
mereka menangis karena mengingat-Nya.
Bab 5: Wajah yang Muda karena Ruh yang Sujud
Wajah bisa menua,
tapi ruh tak mengenal usia.
Setiap sujud, ruh meminum air keabadian.
Bukan riasan,
bukan skincare,
tapi dzikir dan cinta-lah
yang membuat wajah bersinar muda.
Karena siapa yang sujud dalam Wujud-Nya,
tak akan tua.
Ia telah minum dari telaga cahaya-Nya.
Bab 6: Kematian yang Membuka Pintul Kekasih
Dulu aku takut mati.
Kupikir ia akhir.
Ternyata ia undangan.
Kematian bukan kehancuran,
melainkan kelahiran baru.
Bagi pecinta, ia malam pertama di rumah Kekasih.
Jasad akan hancur,
tapi ruh dibuka.
Penjara waktu dan bentuk dilepas.
Dan aku ingin wafat dalam dzikir,
agar yang menjemputku adalah senyum rahmat-Nya.
Bab 7: Kembalinya Cahaya kepada Cahaya
Segala yang berasal dari-Nya, akan kembali kepada-Nya
Aku bukan siapa-siapa.
Aku hanyalah setitik kilau
yang sempat menyapa dunia.
Kini aku tak ingin abadi dalam nama,
tapi ingin lebur dalam Cahaya.
Terimalah aku pulang,
sebagai sujud terakhir dalam waktu,
dan sujud abadi dalam keabadian-Mu.
Kitab ini bukan akhir.
Ia hanyalah permulaan
bagi siapa yang ingin memulai perjalanan pulang.***
Foto : Dok. Pribadi
Editor : M. Nabil
(Aab)