Bisnisnews.net || Banjir akibat rendaman air kembali melanda Kabupaten Ciamis, merendam puluhan rumah di kecamatan seperti Panumbangan dan Pamarican sejak awal Maret 2025.
Di tengah krisis ini, Leuweung Adat (hutan adat) di Kampung Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, menjadi sorotan karena keberhasilannya mencegah bencana serupa. Sesepuh adat, Sanmarno atau Ki Warja, mengajak desa-desa lain meniru cara mereka menjaga hutan. Senin, (17/03/2025).
Menurut laporan awal BPBD Ciamis, banjir kali ini dipicu hujan deras yang membuat Sungai Citanduy dan Cikaso meluap, dengan ketinggian air 20-150 cm. Kejadian ini mengingatkan pada banjir 9 Maret 2023 di Panumbangan, yang merendam 29 rumah akibat aliran air yang tak terkendali. Sementara itu, Kampung Kuta, yang terletak di lembah seluas 97 hektare, tetap aman berkat Leuweung Gede—hutan adat seluas 40 hektare yang dilindungi aturan ketat.
Ki Warja, sesepuh Kampung Kuta, menjelaskan cara mereka melestarikan Leuweung Adat. “Hutan ini hanya boleh dimasuki hari Senin dan Jumat, tanpa alas kaki, tanpa perhiasan, dan tak boleh ambil apa pun kecuali untuk adat,” ujarnya.
Penebangan pohon dilarang total, bahkan untuk kebutuhan warga. “Kayu kami ambil dari kebun luar, bukan Leuweung Gede. Ini tempat leluhur, tak boleh dirusak,” tambahnya.
Pelestarian hutan di Kuta juga mencakup pembatasan penggunaan lahan. Warga tidak boleh membuka ladang baru di kawasan hutan atau menggali sumur, demi menjaga stabilitas tanah dan aliran air bawah tanah. Pohon-pohon besar seperti kawung, rasamala, dan ki hujan dibiarkan tumbuh alami, berfungsi sebagai penahan longsor dan penyerap air.
“Hutan ini simpan air, jaga kami dari banjir dan kekeringan,” kata Ki Warja. Hasilnya, Leuweung Gede menjadi benteng alami yang diakui saat Kuta menerima penghargaan Kalpataru pada 5 Juni 2002.
Sebaliknya, hutan di Ciamis secara keseluruhan terus menyusut. BPS Ciamis 2020 mencatat luas hutan 43.267 hektare, tetapi banyak kawasan hilang akibat alih fungsi lahan untuk pertanian dan pemukiman.
“Banjir ini karena hutan tak ada lagi. Air langsung turun, tak ada yang tahan,” tegas Ki Warja, mengaitkan banjir terkini dengan kerusakan lingkungan di luar Kuta.
Tradisi Nyuguh, upacara syukur tahunan menjelang Maulid Nabi, juga menjadi bagian dari pelestarian Leuweung Adat. “Kami hormati hutan dengan doa dan kesederhanaan. Alam balas kami dengan perlindungan,” ungkap Ki Warja. Aturan lain, seperti larangan membangun rumah tembok, turut menjaga beban tanah agar hutan tetap stabil.
Meski Dinas Lingkungan Hidup Ciamis telah merehabilitasi 500 hektare lahan kritis pada 2021, banjir tetap terjadi. Ki Warja menawarkan solusi sederhana: “Tirulah Leuweung Adat kami. Jangan tebang hutan, jaga seperti leluhur ajarkan, banjir akan jauh,” pungkasnya.
Di tengah rendaman air yang kini melanda Ciamis, pesan dari Kampung Kuta ini menjadi panggilan mendesak untuk kembali ke kearifan lokal.***
Foto : Ape
Editor : Aab Abdul Malik
(Ape/ Biro Ciamis)